Kemasan Transportasi Holtikultura

Komoditas ekspor Indonesia kini cukup potensial, salah satunya komoditas holtikultura. Peningkatan jumlah permintaan komoditas ekspor tidak hanya memperhatikan kuantitasnya saja, tetapi juga dengan memperhatikan kualitas produk yang dihasilkan sesuai dengan permintaan konsumen. Komoditas hortikultura, misalnya, merupakan produk yang cepat mengalami kerusakan. Kurangnya penanganan pasca panen (transportasi, sortasi, pengemasan dan penyimpanan) ikut mempengaruhi nilai perubahan mutu suatu produk. Penanganan pasca panen yang tepat sangat diperlukan agar dapat mempertahankan dan memperbaiki mutu komoditi ekspor.

Transportasi merupakan kegiatan penting dalam penanganan, penyimpanan, dan distribusi produk. Transportasi adalah salah satu mata rantai penanganan pasca panen yang merupakan penyumbang kerusakan cukup tinggi, yakni mencapai 6-30% tergantung dari jarak tempuh dan bahan kemasan yang digunakan. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah kondisi jalan yang dilalui kendaraan transportasi. Hal ini menyebabkan produk mengalami guncangan yang besar jika kondisi jalan sangat tidak rata. Goncangan yang terjadi selama di perjalanan dapat mengakibatkan memar, susut berat dan memperpendek masa simpan (Purwadaria 1992).

Selama transportasi, produk umumnya mengalami memar akibat pukulan, tekanan, getaran serta gesekan. Memar karena pukulan dan disebabkan karena kemasan jatuh ke permukaan yang keras. Memar karena tekanan terjadi karena muatan kemasan yang berlebihan sehingga komoditi harus menahan beban yang cukup besar. Memar akibat gesekan dan getaran dapat terjadi ketika adanya gesekan antar sesama komoditi dalam kemasan atau antara komoditi dan kemasannya. Kerusakan suatu komoditi selama transportasi juga dipengaruhi oleh bahan dalam kemasan, jarak dan lama pengangkutan. Meskipun kemasan dapat meredam efek goncangan, tetapi daya redamnya tergantung pada jenis kemasan serta tebal bahan kemasan, susunan komoditas dalam kemasan dan susunan kemasan dalam moda transportasi. Penanganan pasca panen komoditi ekspor dapat dilakukan dengan menggunakan kemasan dan penyusunan kemasan transportasi yang tepat dan sesuai standar yang ditetapkan sehingga dapat mengurangi kerusakan pada komoditi.

Kemasan transportasi adalah kemasan untuk membantu sarana transportasi atau distribusi dan penyimpanan di gudang. Menurut Kusumah (2007), kemasan transportasi terdiri dari dua jenis, yaitu kemasan rigid (kaku) dan kemasan fleksibel. Kemasan rigid dibuat dengan desain yang kaku sehingga akan memberi perlindungan yang lebih baik terhadap produk yang dikemas. Kekakuan jenis kemasan rigid sangat tinggi sehingga penumpukan dapat lebih tinggi. Kemasan rigid dapat dipakai berulang kali, contohnya peti kayu dan kardus karton. Kemasan fleksibel mempunyai bobot ringan dan volume produk yang terkemas dapat disesuaikan dengan keinginan konsumen, contohnya plastik dan kantong jaring.

Kemasan transportasi yang umum dipakai sebagai kemasan transportasi di Indonesia, yaitu kemasan peti karton (corrugated box). Bahan kemasan karton termasuk ke dalam kemasan transportasi jenis rigid karena memiliki bentuk kaku. Keunggulan kemasan dengan jenis rigid adalah perlindungan yang lebih baik terhadap produk (Kusumah 2007). Bentuk kemasan peti karton, diantaranya RSC (Regular Slotted Container) dan FTC (Full Telescopic Container).

RSC (Regular Slotted Container)

FTC (Full Telescopic Container)

Penyebab kerusakan mekanis selama pengangkutan atau transportasi bisa diakibatkan oleh isi kemasan yang terlalu penuh, isi kemasan kurang atau kelebihan tumpukan. Isi kemasan yang terlalu penuh menyebabkan peningkatan kerusakan akibat kompresi, sedangkan jika kemasan kurang terisi penuh maka dapat menyebabkan bagian atas terlempar-lempar dan berbenturan. Tumpukan yang terlalu tinggi menyebabkan kemasan yang paling bawah akan menerima beban kompresi terlalu besar (Sukmana 2011). Menurut Paine dan Paine (1983), kemasan transportasi dapat memberikan perlindungan maksimal jika memiliki sifat-sifat berikut yaitu sesuai dengan produk yang dikemas, kekuatan yang cukup melindungi produk dari resiko selama tranportasi, ventilasi yang cukup (produk hortikultura), berisi informasi tentang identifikasi produk yang dikemas dan mudah dibongkar tanpa buku petunjuk.

REFERENSI :

Kusumah ES. 2007. Pengaruh berbagai jenis kemasan dan suhu penyimpanan terhadap perubahan mutu fisik mentimun (Cucumis sativus L.) selama transportasi [skripsi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Paine FA, Paine HY. 1983. A Handbook of Food Packaging. London: Leonard Hill

Purwadaria KH. 1992. Sistem Pengangkutan Buah-buahan dan Sayuran. Makalah pada Pelatihan Teknologi Pasca Panen Buah-buahan dan Sayuran, 24 Februari 1992, Bogor.

Sukmana D. 2011. Perancangan dan pengujian kemasan berbahan karton gelombang (corrugated  fiber board) untuk buah manggis (Garcinia mangostana L.) [skripsi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s