Rumput Laut Sebagai Pangan Fungsional

Kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat semakin tinggi sehingga kebutuhan terhadap bahan pangan kian bergeser. Bahan pangan dengan komposisi yang baik dan bentuk yang menarik saja tidak cukup. Kini, produk dengan klaim khasiat kesehatan tertentu menarik masyarakat untuk mengonsumsinya. Produk makanan jenis ini dikenal sebagai makanan fungsional.

Jepang pertama kali memperkenalkan istilah pangan fungsional pada tahun 1980 dan merupakan satu-satunya negara yang mempunyai aturan khusus mengenai pengolahan  pangan fungsional yang diijinkan. Badan yang bertanggung jawab terhadap peraturan ini ialah FOSHU (Food for Specified Health Use) dibawah Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Jepang. Pangan fungsional menurut FOSHU ialah bahan pangan yang berpengaruh positif terhadap kesehatan seseorang, baik jasmani maupun rohani selain kandungan gizi dan cita rasa yang dimilikinya.

Pengertian pangan fungsional berdasarkan konsensus pada The First Perspective on Functional Foods tahun1996 yaitu pangan dengan kandungan komponen aktif yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, diluar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya. Badan POM mendefinisikan pangan fungsional sebagai pangan yang secara alamiah maupun telah melalui proses, mengandung satu atau lebih senyawa yang memiliki fungsi-fungsi fisiologis yang bermanfaat bagi kesehatan. Adapun komponen aktif yang dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu dalam bahan pangan fungsional merupakan senyawa-senyawa alami di luar zat gizi dasar yang terkandung dalam bahan pangan bersangkutan.

Rumput laut merupakan komoditas perikanan yang semakin populer di dunia. Produksi rumput laut Indonesia  berdasarkan Pusat Data Statistik dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2011 mencapai 4.305. 027 ton. KKP telah menargetkan produksi rumput laut sebesar 5.100.000 ton pada tahun 2012 dan menjadikan Indonesia sebagai produsen utama rumput laut dunia. Kebutuhan rumput laut yang tinggi dan produksi dalam jumlah besar menandakan peluang pengembangan rumput laut masih cukup besar.

Rumput laut sebagai pangan fungsional

Produk rumput laut yang telah umum dikenal masyarakat ialah rumput laut kering, agar-agar, karaginan dan alginat. Rumput laut dikenal padat mineral meliputi mineral esensial (besi, iodin, alumunium, mangan, kalsium, kalium, nitrogen dapat larut, fosfor, sulfur, klor, dan sebagainya), asam nukleat, asam amino, protein, trace element, gula, dan vitamin A,B, C, D, E serta K. Selain itu, rumput laut juga mengandung serat makanan. Keistimewaan serat makanan pada rumput laut dibandingkan buah-buahan, sayur-sayuran, kacang-kacangan dan serelia terletak pada kandungan asam alginat dan karaginannya yang tinggi. Kandungan mineral, vitamin dan serat makanan yang tinggi menjadikan rumput laut mempunyai fungsi-fungsi fisiologis yang dapat dimanfaatkan dalam pangan fungsional. Peranan fisiologis yang dimiliki rumput laut sebagai berikut

Menurunkan kolesterol

Serat merupakan komponen makanan yang tidak mudah diserap dan sumbangan gizinya dapat diabaikan, namun memiliki fungsi penting yang tidak dapat digantikan oleh zat lain. Fungsi serat ialah membersihkan sistem pencernaan, melindungi membrane permukaan perut dan usus dari zat karsinogen dan menyerap kolesterol, yang kemudian semuanya dieliminasi dari dalam tubuh. Komponen serat rumput laut bersifat larut air dan dapat menurunkan kolesterol darah. Hasil penelitian Nisizawa (2006) di Jepang mencatat bahwa beberapa jenis rumput laut seperti kombu (Laminaria sp.) dan nori (Porphyra sp.) mampu menurunkan kadar kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) dan meningkatkan HDL (High Density Lipoprotein) dalam darah hewan uji. Serat makanan mampu mengikat asam empedu yang merupakan produk akhir dari metabolisme kolesterol. Semakin banyak asam empedu maka makin banyak kolesterol yang dimetabolisme asam empedu.  Proses ini dapat mencegah penimbunan kolesterol dalam tubuh.

Antikanker

Rumput laut cokelat, contohnya kombu, akan mengeluarkan serat berbentuk lendir yang terdiri dari alginat, fukoidan dan protein ketika direndam dengan air. Serat ini dapat melindungi dinding dari peradangan dan zat karsinogen sehingga mengurangi resiko kanker akibat sistem pencernaan tidak sempurna. Alginat dan fukoidan setara dengan pektin pada buah apel, namun serat larut apel hanya sekitar 12%, sedangkan serat larut rumput laut cokelat mencapai 45%. Rumput laut lainnya yang mengandung serat larut, diantaranya Gelidium sp, Gracilaria sp, Ulva sp, dan sebagainya.

Menurunkan Tekanan Darah

Wakame (Undaria pinnatifida) merupakan jenis rumput laut yang popular dikonsumsi di Jepang. Beberapa studi menyebutkan jenis rumput laut ini memiliki berbagai manfaat kesehatan, seperti mencegah hiperlipidemia (kelebihan lemak), mencegah kanker pada tikus percobaan dan menurunkan tekanan darah pada manusia. Sato et al. (2002) berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi 7 peptida yang dapat menghambat kerja enzim I-converting enzyme (ACE) yang bertanggung jawab meningkatkan tekanan darah. Ke-7 peptida tersebut mampu menghambat 50% aktivitas ACE.

Mencegah Diabetes

Diabetes disebabkan oleh metabolisme tubuh yang tidak berfungsi dengan benar sehingga gula darah tinggi, baik karena rendahnya tingkat hormon insulin atau akibat efek resistensi yang abnormal terhadap tingkat insulin. Agar-agar dan pectin berkontribusi untuk menurunkan gula darah dan mengendalikan kadar insulin. Penelitian terhadap bubuk ‘funori’ (Gloiopeltis sp.) dan Porphyra sp. menunjukan bahwa rumput laut mampu menurunkan kadar glukosa dalam hewan percobaannya.

Antioksidan

Rumput laut mengandung vitamin B dan C yang tinggi dibandingkan tanaman lainnya. Jenis rumput laut nori (Porphyra sp.) yang dapat dikonsumsi sebagai sayur kaya akan vitamin A,B1,B2 dan B12. Vitamin B12 tidak ditemukan di tanaman darat atau sayuran. Jenis rumput laut lain yang kaya B12 adalah Hizikia sp., Gracilaria sp., dan Enteromorpha sp. Kandungan vitamin pada rumput laut dapat memberi manfaat sebagai antioksidan, terutama vitamin A. Hal ini berkaitan dengan beta-karoten yang ada didalamnya. Jenis rumput laut yang banyak mengandung vitamin A adalah wakame (Undaria), kombu (Laminaria) dan Dunaliella sp. Jenis Dunaliella sp. merupakan penghasil beta-karoten yang sangat besar dan telah dibudidayakan secara komersial di beberapa negara, seperti Australia dan Amerika Serikat.

Sumber: wpi.kkp.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s