Vibriosis

Oleh : Eska RW Astuti, Dini A Prastiwi, Suhariyanto Mahardika, Margaretha D Winem, Galih W Pradana

Udang merupakan salah satu komoditas hasil perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain itu udang juga memiliki rasa yang enak dan gurih sehingga banyak dikonsumsi oleh manusia. Data produksi udang windu di Indonesia adalah sebesar 124.561 ton pada tahun 2009 lalu naik menjadi 125.529 ton pada tahun 2011 (Fardiansyah 2011). Udang yang memiliki mutu baik adalah udang yang segar, tidak terkontaminasi bakteri pembusuk maupun bakteri patogen. Salah satu bakteri patogen yang memberikan masalah besar pada para petambak udang adalah bakteri Vibrio cholera. Bakteri ini merupakan bakteri patogen yang hidup pada kulit udang. Udang yang terserang bakteri Vibrio cholera pada saat masih hidup akan menunjukan gejala nekrosis dimana tubuh udang menjadi lemah dan kehilangan nafsu makan. Secara fisik kerusakan pada udang akibat serangan bakteri ini adalah timbulnya bercak kemerah-merahan pada bagian pleopod dan bagian abdominal yang disebut red discoloration serta pada bagian yang terserang Vibrio cholera akan terlihat menyala pada malam hari atau dalam keadaan gelap (Rozi 2008).

Vibrio cholerae menjadi penyebab terjadinya wabah kolera. Cara kerjanya adalah dengan menyerang dinding saluran usus dan menyebabkan diare dan muntah. Penularan bakteri ini melalui air, ikan dan makanan hasil laut. Gejala tersebut akan muncul 24 – 48 jam setelah mengkonsumsi udang yang terkena Vibrio cholerae (Pengsuk et.al 2010). Manusia yang memakan udang yang terserang Vibrio cholera akan mengalami gastroenteritis dengan gejala sakit perut, diare (kotoran berair dan mengandung darah), mual dan muntah, demam ringan, dan sakit kepala. Gejala tersebut akan mucul setelah 2 – 48 jam. Penderita akan sembuh setelah 2 – 5 hari (Sudheesh et.al 2001).

Deskripsi penyakit vibriosis

Vibriosis merupakan suatu penyakit pada organisme air yang disebabkan oleh kelompok bakteri Vibrio sp. yang banyak terdistribusi di air bersih, air terpolusi, air laut kecuali yang salinitasnya tinggi, mikroflora dalam usus, ginjal dan darah ikan. Penyakit ini sering menyerang ikan air laut, air payau dan air tawar. Vibrio sp. merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang panjang atau lengkung, berukuran 0,5-2,0 µm dapat bergerak karena mempunyai 2-3 flagela polar pada spesies tertentu. Strain virulen biasanya menyebabkan wabah penyakit yang berhubungan dengan perubahan lingkungan, stres, perubahan suhu yang mendadak, penanganan yang kasar, penurunan oksigen, umur ikan, suhu tinggi, kandungan oksigen yang rendah dan kepadatan populasi (Albert et al. 1993).

Gejala klinis penyakit vibriosis bentuk akut pada ikan dewasa ditandai dengan warna kulit kusam disertai hilang nafsu makan, letargi dengan hemoragi dipangkal sirip dengan fin rot yaitu kerusakan kulit dengan tepi merah atau putih karena infeksi sekunder jamur. Dinding abdomen, organ viseral, jantung, dan kulit terjadi hemoragi difus, membengkak, distensi abdomen dengan asites. Penyebaran penyakit cepat dan ikan mati dalam 2-3 hari dengan mortalitas tinggi. Biasanya dalam keadaan stres ikan tampak berwarna kusam (gelap) dengan hemoragi kutan pada sirip dan ekor, insang pucat, hemoragi tersebut memborok sampai terjadi lesi di kulit. Saat nekropsi terlihat kongesti dengan hemoragi diseluruh permukaan organ internal dan cairan serosanguinus pada ginjal dan limpa yang membengkak (Spira et al. 1981).

Mekanisme pembentukan vibriosis

Patogenesis dari penyakit ini, bakteri masuk lewat darah dan ke sirkulasi jaringan menyebabkan kerusakan dan radang pada pembuluh darah kulit dan pangkal sirip, diikuti hemoragi pada jantung dan akumulasi cairan di abdomen yang menyebabkan dropsi. Bakteri yang masuk ketubuh ikan melalui epitel dari traktus interstinalis menyebabkan septikemia hemoragi. Selain itu bakteri dapat juga menginfeksi ikan melalui insang. Bakteri ini memperbanyak diri pada daerah usus dan menginduksikan toksin sehingga menimbulkan toksemia pada hewan yang diserangnya. Hemoragi kapiler terjadi pada bagian luar insang dan lapisan submukosa abdomen, sedangkan sel hepar dan tubulus renalis menunjukkan adanya degenerasi. Toksin yang dihasilkan oleh bakteri tersebut menyebabkan anemia hemolitik yang mengakibatkan peningkatan hemosiderin pada pusat melanomakrofag pada jaringan hemapoietik limpa dan ginjal (Benenson et al. 1964). Gambaran mikroskopik terlihat hemoragi dan foki bakteri di jaringan otot jantung, hemapoetik dan insang. Adanya infiltrasi sel leukosit pada foci berkaitan dengan eksotoksin yang dihasilkan oleh Vibrio sp. Foki nekrotik bakterial terlokalisir pada dermis dan epidermis, diawali dengan hiperemi dan edema fibrin, infiltrasi makrofag dan polimorfonuklear leukosit yang menyebar rata. Nekrosis pada pusat lesi dengan deposit fibrin, banyak sel radang mengandung granula melanin (Gustaffson et al. 1985).

Genus Vibrio merupakan agen penyebab penyakit vibriosis yang menyerang hewan laut seperti ikan, udang, dan kerang-kerangan. Spesies Vibrio yang berpendar umumnya menyerang larva udang dan penyakitnya disebut penyakit udang berpendar. Bakteri Vibrio menyerang larva udang secara sekunder yaitu pada saat dalam keadaan stress dan lemah, oleh karena itu sering dikatakan bahwa bakteri ini termasuk jenis opportunistic patogen. Pemberian pakan yang tidak terkontrol mengakibatkan akumulasi limbah organik di dasar tambak sehingga menyebabkan terbentuknya lapisan anaerob yang menghasilkan H2S. Akibat akumulasi H 2S tersebut maka bakteri patogen oportunistik, jamur, parasit, dan virus mudah berkembang dan memungkinkan timbulnya penyakit pada udang. Ciri-ciri udang yang terserang vibriosis antara lain kondisi tubuh lemah, berenang lambat, nafsu makan hilang, badan mempunyai bercak merah-merah (red discoloration) pada pleopod dan abdominal serta pada malam hari terlihat menyala. Udang yang terkena vibriosis akan menunjukkan gejala nekrosis (Rozi 2008).

Bahaya vibriosis

Serangan vibriosis dapat terjadi dengan secara tidak terduga. Peningkatan produksi pembenihan dari kerang di Amerika, mengalami penurunan produksi benih dari 60 juta menjadi 20 juta kerang yang diakibatkan oleh vibriosis. Penyakit ini berhubungan dengan suhu yang hangat dan secara khas hanya menjadi masalah pada bulan yang lebih hangat setiap tahunnya. Vibriosis dicurigai menyerang larva yang tumbuh secara lambat, larva yang gagal dibudidaya atau larva yang tidak terbentuk. Standar aman vibrio sp. pada produk udang beku adalah sebagai berikut.

 

Pencegahan dan pengobatan dengan antibiotik dapat dilakukan, antara lain penggunaan oxytetracycline sebanyak 0,5 garam per kg makanan pada udang yang ditambak selama 7 hari, sulphonamides 0,5 gram per kg makanan udang ditambak selama 7 hari dan chloromphenicol sebanyak 0,2 gram per kg berat makanan udang selama 4 hari. Bahan-bahan yang digunakan merupakan salah satu bahan kimia yang digunakan juga dalam pengobatan ikan yang terkena bakteri Vibrio (Basyari et al 1988).

Iodin merupakan salah satu bahan yang juga dapat digunakan sebagi bahan  dapat mencegah penyebaran bakteri Vibrio. Iodin dapat dengan mudah kita peroleh di pasaran berupa cairan antiseptik seperti yang sering kita kenal dengan betadin, mercurucrome dan lain-lain.  Iodin merupakan bahan aktif yang biasanya digunakan sebagai obat oles luar untuk pengobatan pertama pada luka karena bisa mencegah infeksi lanjutan. Iodin mengandung bahan aktif yang fungsinya dapat melumpuhkan atau mematikan bakteri atau kuman pada luka. Iodin terbukti ampuh untuk mempercepat sembuhnya luka yang ada di sekujur tubuh ikan dalam waktu seminggu tanpa melalui perendaman antibiotik, hasilnya akan terlihat setelah dioles keluka pada hari ketiga.  Cara pencegahan penyakit akibat bakteri Vibrio dapat dilakukna dengan cara menghindari sama sekali kontak ikan sehat dengan yang sakit, lakukan tindakan cepat terhadap ikan yang mulai terlihat serangan vibriosis, karantina ikan yang baru datang, dan bila perlu tutup sementara akses keluar masuknya ikan di area budidaya. Manajemen pengelolaan budidaya yang baik dan benar juga perlu dibiasakan. Pencegahan timbulnya penyakit merupakan tindakan yang sangat bijaksana daripada mengobati setelah ikan sakit. Penanganan yang baik sesuai kaidah yang ada sangat diperlukan dan penganan dini dengan cairan antiseptik iodin akan membantu pembudidaya dalam mencegah meluasnya serangan vibriosis (Feliatra 1999).

 

Daftar Pustaka

Albert MJ, Ansaruzzaman M, Bardhan PK, Faruque ASQ, Faruque SM, Islam MS, Mahalanabis D, Sack RB, Salam MA, Siddique AK, Yunus M, Zaman K. 1993. Large epidemic of cholera-like disease in Bangladesh caused by Vibrio cholerae O139 synonym Bengal. Lancet 342:387–390

Basyari A, Danakusumah, Philip TE, Mustahal P, Isra M. 1988. Budidaya Ikan Beronang. Jakarta: Direktorat Jenderal Perikanan dan International Development Research Centre

Benenson AS, Islam MR, Greenough WB. 1964. Rapid identification of Vibrio cholerae by darkfield microscopy. Bull WHO 30: 827-831

Fardiansyah D. 2011. Produksi udang windu naik tipis, target tercapai 115,01 persen. http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id/ (13 Desember 2011)

Feliatra. 1999. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri. http://kambing-ui.ac.id (12 Desember 2011)

Gustafsson B, Holme T. 1985. Rapid detection of Vibrio cholerae O1 by motility inhibition and immunofluorescence with monoclonal antibodies. Eur J Clin Microbiol 4: 29-34

Liu PC, Lin JY, Chuang WH, Lee KK. 1996. Isolation and characterization of pathogenic Vibrio harveyi (V. carchariae) from the farmed marine cobia fish Rachycentron canadum L. with gastroentritis syndrome. World Journal of Microbiology and Biotechnology 20(5):495-499

Pengsuk C, Longyant S, Rukpratanporn S, Chaivisuthangkura P, Sridulyakul P, Sithigorngul P. 2010. Development of monoclonal antibodies for simple detection and differentiation of Vibrio mimicus from V. cholerae and Vibrio spp. by dot blotting. Journal Aquaculture 300: 17–24

Rozi FA. 2008. Penerapan budidaya udang ramah lingkungan dan berkelanjutan melalui aplikasi bakteri antagonis untuk biokontrol vibriosis udang windu (Penaeus monodon Fabr.) [makalah]. Yogyakarta: Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Spira WM, Ahmed QS. 1981. Gauze filtration and enrichment procedures for recovery of Vibrio cholerae from contaminated waters. Appl. Environ. Microbiol. 42: 730–733.

Sudheesh PS, Xu HS. 2001. Pathogenicity of Vibrio parahaemolyticus in tiger prawn Penaeus monodon Fabricius: possible role of extracellular proteases. Journal Aquaculture 196: 37–46

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s