Mumtaz Mahal

Dalam keadaan apa pun, Mumtaz selalu mendampingi suaminya, Shah Jahan

Berikut adalah true story dari seorang tokoh wanita yang saya baca di salah satu artikel Republika edisi Jumat, 10 Juni 2011 oleh Ferry Kisihandi dengan judul yang sama.

Ajal menjemput Mumtaz Mahal saat ia melahirkan anaknya yang ke-14, seorang bayi perempuan yang kemudian diberi nama Gauhara Begum. Shah Jahan, sang suami berada di sisinya saat itu. Mumtaz meninggal dunia pada 17 Juni 1631 ketika berada di Burhanpur mendampingi Shah Jahan yang melakukan kampanye militer.

Jasadnya untuk sementara dimakamkan di wilayah tersebut. Menurut Diana dan Michael Preston dalam A Teardrop on the Cheek of Time, Mumtaz dikuburkan di Zainabad, sebuah taman berdinding yang dibangun paman Shah Jahan, Daniyal. Taman ini berlokasi di tepi Sungai Tapti.

Ebba Koch dalam The Complete Taj Mahal: And The Riverfront Gardens of Agra mengatakan, Shah Jahan terbalut duka. Shah Jahan berkabung dan memencilkan dirinya selama setahun. Ia  ingin selalu dekat dengan makam istrinya. Saat muncul kembali, rambutnya telah memutih dan punggungnya bungkuk serta wajahnya terlihat lebih tua.

Anak tertua Shah Jahan, Jahanara Begum, secara perlahan membawanya keluar pemakaman dan mengantarkannya ke istana. Kekayaan Mumtaz yang jumlahnya setara dengan 10 juta Rupee dibagikan oleh Shah Jahan. Setengah bagian untuk Jahanara dan sisanya kepada anak-anak lainnya.

Namun, tak pernah terpikir dalam benak Shah Jahan bahwa Burhanpur akan dijadikan tempat peristirahatan terakhir istrinya. Pada Desember 1631, jasadnya dibawa dalam peti mati emas didampingi putranya, Shah Shuja, menuju Agra. Di sana, kemudian jasad Mumtaz dikuburkan di sebuah bangunan kecil yang ada di tepi Sungai Yamuna.

Kala itu, Shah Jahan memutuskan untuk sementara bertahan di Burhanpur, menuntaskan kampanye militer di sana. Di sela-sela waktunya, ia mulai merencanakan rancangan dan bangunan yang cocok sebagai mausoleum dan pemakaman di Agra bagi istrinya. Butuh 22 tahun menyelesaikannya dan bangunan itu adalah Taj Mahal.

Taj Mahal

Taj Mahal menjadi tanda kedalaman cinta Shah Jahan terhadap istrinya. Sejumlah sumber mengungkapkan, menjelang ajal Mumtaz menyampaikan permintaan terakhir kepada suaminya untuk membangun sebuah simbol cinta untuknya. Kemungkinan, Taj Mahal merupakan pemenuhan atas permintaan mendiang istrinya itu.

Mumtaz Mahal lahir di Agra pada April 1593 dari keluarga Persia. Ia anak perempuan Abdul Hasan Asaf Khan. Ia terlahir dengan nama Arjumand Banu Begum dan merupakan keponakan Ratu Nur Jehan yang menjadi istri Jahangir. Mumtaz Mahal memiliki adik, Parwar Khanum, yang menikah dengan Syekh Farid, anak laki-laki Gubernur Badaun, Nawab Qutubuddin.

Pada 1607, Pangeran Khurram yang dikenal dengan sebutan Shah Jahan, bertunangan dengan Arjumand Banu Begum yang kala itu baru berusia 14 tahun. Lima tahun kemudian yaitu pada tahun 1612, Ebba Koch mengungkapkan bahwa setelah pesta pernikahan, Shah Jahan memilihkan nama baru bagi istrinya, Mumtaz Mahal.

Mumtaz merupakan istri ketiga, namun cinta Shah Jahan lebih dicurahkan kepada Mumtaz. Meski demikian, dia tetap bertanggung jawab dan memenuhi kebutuhan dua istri lainnya juga kebutuhan anak-anak mereka. Hal ini diungkapkan oleh Motamid Khan, penulis kronik kerajaan yang terekam dalam Iqbal Namah-e-Jahangiri.

Khan menuturkan, hubungan lebih dalam memang terwujud antara Shah Jahan dan Mumtaz Mahal. Apalagi, Mumtaz dianggap sebagai perempuan yang baik hati. Bahkan selama Mumtaz masih hidup banyak gubahan puisi yang mengungkapkan kecantikan, keanggunan dan kebaikan hatinya.

ilustrasi Mumtaz Mahal

Mumtaz adalah pendamping paling dipercayai suaminya. Ia menemani Shah jahan bepergian ke wilayah kekuasaan Mughal. Saking besarnya kepercayaan kepada Mumtaz, Shah Jahan memberikan stempel kerajaan, Muhr Uzah, kepada dirinya. Koch mengatakan, Mumtaz digambarkan pula sebagai istri yang sempurna.

Menurut Koch, Mumtaz tak memiliki ambisi pada kekuasaan politik seperti bibinya, Nur Jehan. Namun, ia sangat berpengaruh pada diri Shah Jahan, termasuk menyangkut nasib warga miskin. Di sisi lain, ia juga suka berlibur dengan menikmati pertunjukan gajah.

Tak jarang, ia menghabiskan waktu di taman yang ada di tepi sungai di Agra. Meski Mumtaz sering melahirkan, ia selalu mendampingi suaminya bepergian. Tak terkecuali, ke medan pertempuran untuk menumpas pemberontakan. Hampir dalam keadaan apapun, ia berada di sisi suaminya.

Shah Jahan dan Mumtaz Mahal

Aktivitas kemanusiaan Mumtaz Mahal sangat melegenda. Dengan izin suaminya, ia membelanjakan uang untuk membantu warga miskin. Ia juga seorang pendengar yang baik dan selalu mendengarkan keluh kesah masyarakatnya serta berupaya untuk menyelesaikan permasalahan mereka.

Dengan bantuan Sati-un-Nisa yang merupakan tutor anaknya yaitu Jahanara, Mumtaz Mahal memanfaatkan tanah, perhiasan dan uang yang ada pada dirinya untuk kepentingan fakir miskin. Seperti perempuan Mughal lainnya, Mumtaz juga memiliki kepiawaian dalam menyusun puisi. Ia juga pelindung ilmuwan dan seniman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s