Cerita Kepompong

Teman-teman mungkin sudah pernah mendengar atau mengetahui cerita ini, tapi mari kita renungkan kembali.

Seorang pria memperhatikan calon kupu-kupu pada sebuah kepompong. Calon kupu-kupu tersebut tampak sekuat tenaga mendorong tubuhnya keluar dari sebuah celah sempit pada kepompong. Kemudian, usaha tersebut tampak berhenti dan sia-sia. Karena tidak tega, pria itu mengambil gunting dan membuka kepompong tersebut. Pria itu berharap dapat melihat kupu-kupu tersebut keluar dan terbang dengan sayapnya yang indah. Tapi, harapan itu tidak terjadi!

Kenyataanya, kupu-kupu itu malah menghabiskan seluruh hidupnya dengan merayap dengan tubuh yang lemah dan sayap yang terlipat. Pria itu tidak mengerti bahwa perjuangan kupu-kupu untuk keluar dari kepompong dengan mengeluarkan cairan dari dalam tubuhnya merupakan suatu proses agar sayapnya dapat  berkembang dan siap untuk terbang, sesuai dengan ketentuan Allah swt.

Perjuangan merupakan sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini. Kita meminta yang kita inginkan, tapi Allah memberi yang kita butuhkan. Semoga teman-teman tetap semangat dan sukses menghadapi ujian kehidupan ini🙂

“Tidak ada cara yang mudah untuk mencapai keberhasilan karena kesulitan pertama dan utamanya adalah MENGALAHKAN kecenderunganmu untuk malas, menunda yang baik, menyenangi yang tidak penting, menikmati kesedihan, mencurigai nasihat baik dan berprasangka buruk terhadap Tuhan” (Mario Teguh)

“Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya ia mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan ia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) surga, dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya. Dan sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang, dan sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak” (HR. Abu Dawud no. 3641, At-Tirmidziy no. 2683 dan isnadnya hasan, lihat Jaami’ul Ushuul 8/6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s