Pemanfaatan Limbah Perikanan : Minyak Ikan

Ulasan berikut mengenai minyak ikan yang saya tulis berdasarkan literatur dan studi di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Kegiatan industri pengolahan perikanan umumnya menghasilkan limbah yang dibuang begitu saja. Contoh industri pengolahan yang banyak terdapat di Indonesia adalah proses pengolahan tepung ikan dan pengalengan ikan. Kedua jenis industri tersebut banyak menghasilkan limbah berupa minyak ikan. Jenis limbah ini banyak yang tidak mengalami pemanfaatan kembali sehingga mudah diperoleh dalam jumlah banyak.

Minyak ikan merupakan hasil ekstraksi lipid yang dikandung dalam ikan dan bersifat tidak larut air. Kandungan gizi minyak ikan terdiri dari 25% asam lemak jemuh dan 75% asam lemak tak jenuh. Kandungan asam lemak tidak jenuh pada minyak ikan berkonfigurasi dengan omega-3, yaitu asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap dua pertama terletak pada atom karbon ketiga dihitung dari gugus metilnya. Asam lemak tak jenuh atau disebut juga polyunsaturated fatty acid (PUFA), diantaranya Eikosapentaenoat (EPA) dan Dekosaheksaenoat (DHA) yang dapat berfungsi meningkatkan kecerdasan, fungsi indera penglihatan, kekebalan tubuh balita dan menghambat penyakit degeneratif. Kandungan minyak ikan ditentukan oleh kondisi bahan baku yaitu jenis spesies, jenis kelamin, umur, habitat dan jenis makanan yang dikonsumsi ikan.

Minyak ikan mengandung omega-3 yang tinggi sehingga berbeda bila dibandingkan dengan lemak hewan darat. Kadar total asam lemak omega-3 pada minyak limbah pengalengan ikan lemuru di Muncar, Jawa Timur, sebesar 29,68%. Kandungan asam lemak omega-3 yang tinggi pada limbah minyak ikan tersebut menandakan adanya peluang pemanfaatan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Minyak ikan umumnya diperdagangkan untuk pakan ternak, pelumas industri penyamakan, industri cat dan tinta. Pemanfaatan minyak ikan dalam industri pangan sebagai pengganti minyak nabati dan lemak hewani. Komponen dalam minyak ikan seperti vitamin A, vitamin D, asam lemak omega-3 dan skualen berperan dalam industri farmasi, contohnya teknologi mikroenkapsulasi.

Proses pengambilan minyak ikan dari bahan baku menurut Astawan (1998) bermacam-macam, yaitu rendering basah, rendering kering, hidrolisa, silase asam dan ekstraksi dengan pelarut. Metode rendering basah merupakan teknik yang paling banyak digunakan oleh industri pengolahan minyak ikan. Tahap utama teknik ini adalah pengukusan dan pengepresan. Proses pengukusan bertujuan melepaskan minyak dengan air, sedangkan pengepresan untuk memisahkan minyak dari padatan dengan sempurna. Bahan baku ikan dicuci lalu dikukus pada suhu 105oC selama 30 menit. Ikan yang telah dikukus kemudian dipres dan diambil bagian cairan yang berupa minyak dan air. Cairan dialirkan pada corong pemisah sehingga diperoleh lapisan atas (minyak) dan lapisan bawah (air). Minyak lalu disentrifuse dengan kecepatan 10.000 rpm selama 10 menit sehingga diperoleh minyak kasar.

Minyak ikan kasar masih harus diberi perlakuan berupa pemurnian minyak ikan. Tujuan utama pemurnian ikan yaitu menghilangkan kotoran, lendir, rasa dan bau yang tidak disukai, serta warna yang tidak menarik dan memperpanjang masa simpan minyak sebelum dikonsumsi atau digunakan industri pangan. Metode pemurnian minyak ikan yang umum digunakan adalah metode pemurnian alkali berdasarkan Ketaren (1986). Tahap-tahap pemurnian ikan meliputi penyaringan, deguming, netralisasi, bleaching dan deodorisasi.

Minyak ikan kasar disaring menggunakan kertas Whatman 40 sehingga gumpalan lemak dan kotoran terpisah. Minyak lalu diberi perlakuan degumming dengan cara dipanaskan dan diberi NaCl 8% pada suhu 70oC lalu diaduk 15 menit. Suhu minyak diturunkan pada tahap netralisasi hingga 60oC kemudian ditambahkan NaOH 1 N dan diaduk 15 menit. Selanjutnya, minyak dan sabun dipisahkan dengan evaporator pada suhu 20oC dengan kecepatan 10.000 rpm selama 15 menit. Minyak diambil pada lapisan atas hasil sentrifuse dengan evaporator lalu dipanaskan hingga 60oC, ditambahkan bentonit 10% dan diaduk 20 menit untuk proses bleaching. Tahap akhir, hasil bleaching  kembali disentrifuse dengan kecepatan evaporator 10.000 rpm pada suhu 20oC selama 15 menit. Hasil akhir dari rangkaian proses ini berupa minyak ikan murni.

Proses deguming bertujuan memisahkan getah atau lendir yang terdiri dari fosfatida, sisa protein, karbohidrat, air dan resin, tanpa mengurangi jumlah asam lemak dalam minyak. Bahan kimia yang biasa digunakan dalam proses ini berupa larutan garam (NaCl) dan asam lemah seperti asam fosfat. Netralisasi berperan memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau lemak dengan mereaksikan asam lemak dengan basa atau pereaksi lainnya hingga membentuk sabun. Bahan yang digunakan dalam netralisasi yaitu NaOH 1 N. Minyak yang telah dinetralisasi masih tampak keruh sehingga perlu dilakukan bleaching dengan bentonit 10% untuk menghilangkan getah (gum) pada minyak lebih sempurna. Teknik yang dapat ditambahkan setelah bleaching ialah deodorisasi atau teknik untuk menghilangkan aroma yang tidak  diinginkan dan penambahan antioksidan untuk mencegah kerusakan lemak akibat oksidasi.

Tabel karakteristik mutu minyak ikan

Karakteristik

Minyak

Kasar

Murni

Warna Cokelat hitam Kuning
Bau Menyengat Kurang menyengat
Asam lemak bebas (%) 15,75 0,09
Bilangan Iod (gr/100gr) 190,40 188,35
Bilangan peroksida 8,80 3,29

REFERENSI:

Almunady T, Yohandini H, Gultom JU. 2011. Analisis kualitatif dan kuantitatif asam lemak tak jenuh omega-3 dari minyak ikan patin (Pangasius pangasius) dengan metode kromatografi gas. Jurnal Penelitian Sains XIV (4): 38-42

Astawan M. 1998. Teknik ekstraksi dan pemanfaatan minyak ikan untuk kesehatan. Bul. Teknol. dan Industri Pangan IX(1): 44-54

Djumhawan R, Permana, Citroreksoko P. 2003. Analisis proksimat tepung hasil proses ekstraksi minyak dari puree ikan. Jurnal Iktiologi Indonesia III(2): 73-77

Ketaren S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Bogor: PAU Pangan dan Gizi, Insitut Pertanian Bogor

Suwirya K, Marzuqi M, Prijono A, Giri NA. 2005. Pengaruh substitusi minyak ikan dengan minyak kedelai dalam lemak pakan terhadap pertumbuhan benih kerapu lumpur Epinephelus coioides. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia XI(5): 63-68

Yogaswara G. 2008. Mikroenkapsulasi minyak ikan dari hasil samping industri penepungan ikan lemuru (Sardinella lemuru) dengan metode pengeringan beku (freeze drying) [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s