Pemanfaatan Limbah Perikanan : Penyamakan Kulit (2)

*lanjutan dari penyamakan kulit (1)

Bahan-bahan lainnya yang diperlukan dalam proses penyamakan meliputi air, tepung kapur, Na2S, (NH4)2SO4, HCOOH, enzim basozym, degressing agent, garam dapur, H2SO4, kromosomal B, Na2CO3, basyntan, zat warna, minyak dan asam formiat. Bahan kapur (Ca(OH)2) berperan dalam proses pengapuran untuk menghidrolisa protein kulit dan membuang bulu atau rambut. Bahan (NH4)2SO4 merupakan asam yang digunakan untuk membuang kapur dalam kulit. Enzim basozym bertujuan menghidrolisa secara enzimatik tenunan kulit untuk melonggarkan seratnya. Larutan H2SO4 dan Na2CO3 merupakan zat pembantu dalam penyamakan mineral. Basyntan merupakan zat yang mengandung fenol dan efektif pada kondisi netral (tidak asam atau basa). Zat ini digunakan dalam proses penyamakan ulang untuk memperkuat fungsi krom. Zat pewarna kulit digunakan untuk memperindah kulit dengan pewarnaan, sedangkan minyak berfungsi sebagai pelumas.

Proses penyamakan kulit meliputi beberapa tahap, yaitu tahap preparasi kulit segar, penimbangan, pengapuran, pencucian I, pembuangan kapur, pencucian II, degressing, pengasaman, penyamakan krom, pencucian III, netralisasi, penyamakan ulang, pencucian IV, pewarnaan, peminyakan, pencucian V, pementangan dan  finishing. Berikut peranan dari perlakuan pada tiap tahap proses penyamakan ikan:

  • Proses perendaman dilakukan pada proses pengapuran untuk mengembalikan keadaan kulit apabila telah dilakukan pengawetan sebelumnya agar kembali tampak segar, membersihkan kulit dari kotoran, menghilangkan bahan pengawet dan melarutkan protein interfibrilair.
  • Kulit yang masih segar tidak perlu dilakukan perendaman terlebih dahulu tapi dapat langsung dilakukan pengapuran yang bertujuan menghilangkan epidermis, menyebabkan pembengkakan (swelling), melonggarkan serabut kolagen sehingga kulit menjadi lebih lemas, menyabunkan lemak dan menghidrolisa elastin.
  • Proses pembuangan kapur menggunakan urea dan asam formiat bertujuan menghilangkan kadar kapur pada kulit dan efek-efek lain akibat pengapuran.
  • Pelumatan merupaka istilah khusus yang bertujuan membuka tenunan kulit dengan penambahan enzim agar kulit halus dan lemas. Pelumatan juga berperan membuang zat-zat yang bukan kolagen namun belum luruh pada proses pengapuran, berupa pigmen, lemak, zat-zat kulit yang tidak diperlukan dan sisa kapur. Jenis enzim yang dapat digunakan, diantaranya basozym dan oropon.
  • Proses pengasaman dilakukan agar suasana penyamakan menjadi asam dengan menambahkan HCOOH dan H2SO4.
  • Penyamakan krom dilakukan dengan penambahan krom untuk menjadikan kulit lebih stabil, meningkatkan daya tahan, mengurangi pembengkakan kulit, meningkatkan kekuatan fisik, mengurangi berat jenis dan meningkatkan kemampuan penyerapan pada tekstur jaringan.
  • Netralisasi dilakukan untuk mengurangi reaksi pengikatan zat warna terjadi terlalu cepat sehingga hasil penyerapan lebih baik, serta menguatkan efektivitas penyamakan ulang.
  • Penyamakan ulang berfungsi memperkuat fungsi krom pada kulit.
  • Tahap pewarnaan tentu berperan untuk member warna pada kulit dengan zat warna.
  • Peminyakan dilakukan untuk member pelumas berupa minyak atau lemak pada serat-serat kulit sehingga lebih lembut dan fleksibel, serta meningkatkan daya tahan, kekuatan tarik, kedap air dan kelembaban.
  • Proses pementangan dilakukan untuk menguapkan sisa cairan  (pengeringan) setelah rangkaian proses penyamakan krom.

 

REFERENSI:

[KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2007. RI masih berpeluang tembus pasar kulit dunia. http://www.kkp.go.id (14 Mei 2012)

________. 2011. KKP targetkan produksi ikan nila pada 2011 naik 36,26%. http://www.kkp.go.id (14 Mei 2012)

Alfindo T. 2009. Penyamakan kulit ikan tuna (Thunnus sp.) menggunakan kulit kayu akasia (Acacia mangium Willd) terhadap mutu fisik kulit [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

Choudhary RB, Jana AK, Jha MK. 2004. Enzyme technology applications in leather processing. Indian Journal of Chemical Technology II (1): 659-671

Irianto HE, Retnowati N, Hak N. 2007. Prospek pengembangan penyamakan kulit ikan. Squalen II(1): 7-16

Judoamidjojo RM. 1981. Teknik Penyamakan Kulit untuk Pedesaan. Bandung: Angkasa

Kanagaraj J, Velappan KC, Babu NKC, Sadulla S. 2006. Solid wastes generation in the leather industry and its utilization for cleaner environment – a review. Journal of sciencetific and Industrial Reasearch 65(1): 541-548

Purnomo E. 1992. Dasar-dasar Teknologi Kulit I. Yogyakarta: Kanisius

Rahmat A, Sahubawa L, Yusuf I. 2008. Pengaruh pengulangan pengapuran dengan kapur tohor (CaO) terhadap kualitas fisik kulit pari tersamak. Majalah Kulit, Karet dan Plastik 24(1): 19-24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s