Pemanfaatan Limbah Perikanan : Penyamakan Kulit (1)

Ulasan berikut mengenai penyamakan kulit yang saya tulis berdasarkan literatur dan studi penyamakan kulit ikan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Penyamakan bukan merupakan hal baru di Indonesia, terutama penyamakan yang menggunakan kulit dari berbagai hewan darat, seperti kerbau, sapi, kambing dan domba. Produk-produk yang dihasilkan dari industri ini diantaranya sepatu, tas, jaket dan sebagainya. Ekspor produk kulit Indonesia pada tahun 2004 mencapai 3,106 miliar Dollar AS. Produksi kulit di Indonesia menurut KKP mencapai 440 juta buah atau senilai dengan Rp 34,81 triliun pada tahun 2007. Industri penyamakan kulit kini mengalami kendala produksi karena kekurangan bahan baku dari hewan ternak. Alternatif yang dapat dilakukan yaitu pemanfaatan kulit ikan sebagai bahan baku penyamakan kulit. Kulit samak ikan sangat potensial untuk dikembangkan namun pergerakannya sangat lambat. Usaha penyamakan kulit ikan tidak hanya memberi nilai tambah pada limbah kulit tapi juga sebagai alternatif dalam mencukupi bahan baku kulit dalam industri perkulitan di Indonesia yang telah diaplikasikan ke dalam pembuatan produk berbahan dasar kulit, seperti tas, jaket, sabuk, dompet dan beberapa produk lainnya.

Penyamakan adalah teknik dalam mengubah kulit mentah menjadi kulit samak. Prinsip proses penyamakan menurut Judoamidjojo (1981) meliputi pembuangan bagian-bagian yang tidak dikehendaki, persiapan tenunan derma untuk disamak (perendaman, pengapuran, pembuangan kapur dan pengasaman) untuk memperlunak kulit, penyamakan dengan zat penyamak dan proses perampungan (peminyakan, pengeringan, pengecatan dan pementangan) untuk memperbaiki kualitas tampilan kulit samak. Proses ini juga diartikan sebagai suatu rentetan pengerjaan pada kulit dengan zat-zat atau bahan-bahan penyamak sehingga kulit yang semula labil karena pengaruh kimia menjadi stabil pada tahap tertentu. Kulit umumnya disamak menggunakan bahan penyamak krom, yaitu suatu persenyawaan kompleks dari krom yang dikenal dengan nama kromosomal atau kromitan. Ikatan antara krom dan protein kulit disebut ikatan silang yang menyebabkan berubahnya sifat kulit mentah menjadi lebih tahan terhadap pengaruh fisik dan kimia dari luar. Kelebihan penyamakan menggunakan bahan krom ialah kulit samak akan menjadi lebih lemas, tahan panas tinggi, kekuatan tarik lebih tinggi dan hasil lebih baik bila dilakukan pengecatan.

Bahan baku yang dapat digunakan dalam proses penyamakan ialah kulit ikan nila (Oreochromis niloticus) dan ikan kakap putih (Lates calcalifer). Kedua jenis ikan tersebut merupakan komoditi perikanan penting sehingga banyak limbah yang dihasilkan dari sisa pemanfaatannya, misalnya kulit. Produksi ikan nila menurut KKP mencapai 469.173 ton pada tahun 2010, sedangkan produksi ikan kakap di tahun yang sama mencapai 1.776 ton. Budidaya ikan kakap masih belum berkembang, namun kulit kakap memiliki kualitas sangat baik dalam industri penyamakan, yaitu kulit dengan bekas sisik berbentuk bulat dan kualitas serat yang bagus. Kulit ikan umumnya mengandung air 69,6%, protein 26,9%, abu 2,5% dan lemak 0,7%. Syarat mutu kulit ikan samak, contohnya ikan pari, menurut SNI 6-6121-1999 meliputi tebal 1 mm, suhu pengerutan minimal 70oC, kekuatan tarik minimal 2000 N, kekuatan sobek minimal 300 N, kadar air maksimal 20%, kadar minyak maksimal 12%, keadaan kulit tidak keriput dan kuat.

*lanjut ke penyamakan kulit (2)

 

REFERENSI:

[KKP] Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2007. RI masih berpeluang tembus pasar kulit dunia. http://www.kkp.go.id (14 Mei 2012)

________. 2011. KKP targetkan produksi ikan nila pada 2011 naik 36,26%. http://www.kkp.go.id (14 Mei 2012)

Alfindo T. 2009. Penyamakan kulit ikan tuna (Thunnus sp.) menggunakan kulit kayu akasia (Acacia mangium Willd) terhadap mutu fisik kulit [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

Choudhary RB, Jana AK, Jha MK. 2004. Enzyme technology applications in leather processing. Indian Journal of Chemical Technology II (1): 659-671

Irianto HE, Retnowati N, Hak N. 2007. Prospek pengembangan penyamakan kulit ikan. Squalen II(1): 7-16

Judoamidjojo RM. 1981. Teknik Penyamakan Kulit untuk Pedesaan. Bandung: Angkasa

Kanagaraj J, Velappan KC, Babu NKC, Sadulla S. 2006. Solid wastes generation in the leather industry and its utilization for cleaner environment – a review. Journal of sciencetific and Industrial Reasearch 65(1): 541-548

Purnomo E. 1992. Dasar-dasar Teknologi Kulit I. Yogyakarta: Kanisius

Rahmat A, Sahubawa L, Yusuf I. 2008. Pengaruh pengulangan pengapuran dengan kapur tohor (CaO) terhadap kualitas fisik kulit pari tersamak. Majalah Kulit, Karet dan Plastik 24(1): 19-24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s