Neng Rati (Part 2)

*lanjutan*

Ya Tuhan, Mia!

Tiba-tiba aku tersadar, Mia sudah tidak berada di sampingku. Dia di sana. Di samping Rifqi. Tapi, kapan dia ke sana? Tadi masih di sini, kok! Belum sempat pertanyaanku terjawab, terdengar omelan dan gerutuan di sebelahku.

“Iiih, sok pahlawan banget sih dia!” omel Nita.

“Kurang ajar! Mau manas-manasin gue, ya!” ucap Stella.

“Harus dikasih peringatan tuh, Stel!” Monik menimpali.

“Tenang aja, Mon. Dia sudah berani bikin gue marah. Lihat aja besok.”

“Bagus, Stel. Si Neng Rati itu kan baru dua minggu sekolah di sini. Lagipula, dia juga masih kelas dua belagu banget sih dia!” Nita melipat tangannya.

“Tapi, elo enggak takut sama Bu Rati?” celetuk Tini, satu-satunya dari keempat cewek itu yang kelihatan agak tulalit.

“Hellooo! Asal Neng Rati atau siapapun, termasuk elo, enggak ada yang ngadu. Bu Rati enggak akan tahu, tulalit!” hardik Nita.

Aku merinding mengingat kata-kata itu. Tapi, Mia nekat juga, sih! Apa pesona Rifqi saking kerennya sampai dia lupa daratan kayak gitu? Atau memang Cuma mau manas-manasin fans-fansnya Rifqi saja, seperti kata Stella tadi? Atau mau cari muka di depan anak-anak satu sekolahan dengan berpura-pura menjadi pahlawan? Sebenarnya, dia kenapa, sih?

“Eh, kebetulan! Di sini ada temennya Neng Rati.” Tiba-tiba Monik berkata sambil memandang ke arahku. Kontan saja, semua orang di sekitarku menoleh.

“Ternyata dunia itu sempit ya! Baru saja Neng Rati diomongin. Eh, saudaranya sudah muncul di sini. Hahaha.” Stella dan kawan-kawannya tertawa terbahak-bahak.

“Kok enggak ikut-ikutan cari perhatian?” sambung Nita sinis.

“Mana kacamatanya? Katanya kembaran!” Timpal Monik.

Kepalaku tertunduk. Ingin sekali aku membalas ucapan mereka, tapi entah mengapa keberanianku luntur. Tanpa kusadari, air mataku tumpah. Kemudian, aku berlari sambil menangis dan tidak kembali lagi ke lapangan.

Saat itu, aku merasa menyesal. Seandainya saja keselesaikan kalimatku lebih awal, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Sebenarnya, aku mau memberitahu Mia bahwa saat itu di sebelahku ada Stella dan gengnya. Mereka sekelompok kakak-kakak kelas tiga, yang diketuai Stella. Menurut kabar yang beredar, Stella sudah lama naksir Rifqi yang kebetulan sekelas dengannya.

Sorry ya, Ren! Gue sendiri heran kok gue nekat banget ya, padahal waktu itu baru aja lo bilang kalo Rifqi banyak fansnya,” kata Mia saat meneleponku tadi malam.

“Gue enggak apa-apa kok, Mi. Justru gue khawatir sama elo.”

“Khawatir? Kenapa?”

“Soalnya, si Stella bilang dia mau kasih peringatan ke elo besok.”

“Dilabrak maksud lo?”

“Ya, semacam itulah!” Aku mendengar Mia menghela nafas.

“Tabah ya, Mi!” hiburku.

“Tapi, benar kan elo enggak apa-apa?”

“Gue enggak apa-apa asal elo enggak cari masalah lagi,” jawabku. “Gue tahu banget si Stella itu kayak apa dan gue enggak mau sahabat gue punya musuh. Lo janji ya jangan ngedeketin Rifqi lagi?”

Mia terdiam.

“Mi? Mia?”

“Enngg…, iya deh! Gue janji,” ucapnya pelan.

Bye, Mia!”

Bye.” Mia menutup telepon.

Dan benar saja, Stella dan gengnya datang ke kelas mengganggu istirahat kami, hari ini.

“Mana si Rati?!” bentak Nita.

Kelas yang semula ribut menjadi sunyi dalam sekejap.

“Tuh dia!” tunjuk Monik ke arah Mia yang saat itu sedang duduk di sampingku.

“Sini lo!” seru Nita.

Mia berjalan menghampiri mereka. Tanpa kepala yang tertunduk dan ekspresi ketakutan di wajahnya.

“Ada apa. Kak?” tanyanya sopan.

“Ada apa? Belagu banget sih, lo!” gertak Monik.

“Tenang, Mon. Dia kan masih anak baru.” Stella berjalan perlahan menghampiri Mia.

“Ingat, ya! Gue harap lo bisa jaga sikap lo. Lo pikir dengan hebohnya kacamata lo yang aneh, lo sudah bisa bebas ngelakuin apa aja di sekolah ini?”

Stella menatap Mia dengan tajam tapi Mia tidak menunduk ataupun berkedip memandangnya.

“Enggak bisa segampang itu,” lanjut Stella. “Dan, lo pikir, Rifqi bakal dating ke sini cuma buat ngucapin terima kasih?” Stella dan Mia masih bertatapan.

“Jangan harap! Dan, gue minta jangan natap gue seperti itu!” tangan Stella terangkat.

“STELLA!!! SEDANG APA KAMU???” tiba- tiba seseorang berteriak dari belakang.

Kami semua menoleh. Stella cepat-cepat menurunkan tangannya. Di antara kerumunan, yang aku tak tahu kapan mereka datang, tampak Bu Rati sedang berjalan menghampiri Stella dan Mia. Kami semua terdiam. Dan, saat semua mata memandang kea rah Bu Rati, aku melihat Kak Tini gelisah.

“Sekarang, Mia, Stella dan kalian…” Bu Rati menunjuk Monik dan Nita.” … ikut saya ke ruang BP!”

“Tapi, Bu…” Stella mencoba membantah.

“Enggak ada tapi-tapian!” potong Bu Rati.

Dan, setelah lewat satu jam, Mia keluar dari ruang BP seorang diri. Ia menceritakan padaku bahwa dirinya dinyatakan tidak bersalah. Bu Rati bahkan meminta Stella dan gengnya untuk meminta maaf terhadapnya. Selain itu, ternyata berkat seseoranglah maka informasi kejadian itu bisa sampai ke telinga guru.

“Gue penasaran sama yang lapor. Hebat juga dia, bisa ngelaporin Stella,” ujarku sambil tersenyum geli.

“Bu Rati juga sudah bilang pada Stella dan gengnya tentang apa yang selama ini gue rahasiakan ke elo dan teman-teman yang lain, Ren.” Alis mataku berkerut menatapnya.

“Gue yang minta dia ngerahasiain hal ini, karena gue enggak mau bikin dia malu dan dijauhi teman-temannya. Gue sedih banget waktu lo bilang gue harus ngejauhi dia. Gue panik banget waktu dia kecelakaan di pertandingan basket itu.” Suara Mia bergetar, seperti menahan sesuatu. “Sebenarnya, gue tinggal di Jakarta karena bokap gue mau rujuk lagi sama nyokap gue. Mereka enggak pernah cerai, tapi pisah rumah selama hampir sepuluh tahun. Dan, setelah bertemu, gue berharap enggak pernah kehilangan dia lagi.”

Air mata Mia mengalir saat mengatakan,” Rifqi adalah kakak gue, Ren!”

*tamat*

[pernah dimuat dalam Majalah kaWanku edisi 16-22 Januari 2006]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s