Neng Rati (part 1)

Mia menghapus air matanya. Aku benar-benar tak percaya. Sahabatku, Mia, ternyata seorang… ah! Aku pasti salah dengar. Aku sendiri merasa heran. Setelah semua kejadian yang membuat diriku terheran-heran terjawab, aku malah sulit untuk percaya. Kutatap mata berbingkai kacamata yang sama dengan Bu Rati itu.

“Lo serius, Mi?” tanyaku. “Mak… maksud gue, elo enggak bercanda, kan?”

“Elo kira setelah gue ngomong kayak tadi, gue bakal teriak ‘April Mop’, begitu?” Ia mencoba tertawa.

“Gue maklum kok kalau elo enggak percaya.” Mia menghela napas. “Siapa sih yang menyangka kalau Neng Rati ternyata salah satu bagian dari sejarah seorang Rifqi.” Matanya menerawang.

Cukup lama kami terdiam. Aku sendiri bingung memilih kata yang tepat untuk Mia. Aku ingin sekali menghiburnya. Tapi, untuk apa dihibur? Dia kan tidak sedang berduka. Bukankah menjadi bagian dari sejarah cowok terpopuler di sekolah adalah anugerah? Hehe.

“Lo tanya langsung aja ke orangnya,” kata Mia tiba-tiba.

“Apa?” tanyaku setengah berteriak walaupun dengan jelas aku mendengar semua yang dia katakan.

“Lo tanya langsung aja ke orangnya. Ke Rifqi,” ulangnya.

“Enggak ah! Gila saja!” jawabku cepat. “Maksud gue, gue percaya kok sama lo! Lo kan sobat gue, masak sih elo bohong,” tambahku cepat-cepat ketika ia menatapku dengan heran.

“Iya, ya, lagipula besok beritanya pasti sudah menyebar,” ucapnya lirih.

Fiuh.. aku bernapas lega. Untung aku enggak benar-benar disuruh bertanya. Kalau iya? Aduh, itu sih sama aja ‘nyemplung’ ke rawa buaya. Buaya betina lagi. Hahaha, lebay ya? Intinya sih bakal dijauhin cewek-cewek satu sekolahan. Belum lagi ejekan dan kabar burung yang bakal bikin telinga merah, juga pasukan kakak kelas yang sudah stand by ngelabrak adik kelas dan masih banyak lagi. Pokoknya, berani ngedeketin Rifqi yang gantengnya ampun-ampunan itu sama saja siap tempur, deh!

Dan, bicara soal tempur.. aku melirik Mia. Kasihan dia, hari ini dia baru saja mengalamu kejadian yang enggak enak. Bukan pertempuran sih tapi mirip, hehe. Walaupun berakhir dengan campur tangan pihak ketiga, kejadian seperti itu bisa masuk kategori tragedy. Apalagi, bagi murid baru seperti Mia.

Ya, Mia adalah murid baru di kelasku. Ia pindah dari Bandung karena harus ikut ibunya yang dipindahtugaskan ke Jakarta. Di hari pertamanya, ia sudah menjadi buah bibir di sekolah kami. Berita kedatangannya tersebar begitu cepat. Sebenarnya, dia cuma cewek berpenampilan biasa, kecuali kacamatanya yang ternyata sama dengan kepunyaan salah satu guru kami. Bu Rati adalah guru matematika di kelasku yang bertubuh gemuk dan terkenal killer. Bisa dibilang, kacamata beliau memang unik, karena bingkainya yang tebal dan berwarna hitam, mirip kacamata kuno. Karena itulah, Mia selalu dipanggil dengan julukan Neng Rati. Ya, ampun!

Sebagai teman sekelasnya, aku dan teman-temanku selalu berusaha menghiburnya. Tapi, tanpa dihibur pun dia tidak pernah merasa dipermalukan ataupun sakit hati. Julukan itu seakan-akan sudah akrab di telinganya. Itu yang aku suka darinya. Dia tidak mudah tersinggung dan pemaaf. Namun, sebuah ‘kesalahan’ telah dilakukannya kemarin…

“Eh, ada ramai-ramai apaan tuh, Ren?” Tanya Mia.

“Mungkin lagi ada tanding basket.”

“Tanding basket? Ke sana yuk, Ren!” Mia menarik lenganku.

“Aduh, Mi! Di sana kan panas banget. Enggak, ah!”

“Tapi, orang-orang di sana juga kepanasan. Ayo, Ren! Aku penasaran banget, nih!”

Setelah didesak terus-menerus, aku pun memutuskan ikut berpanas-panas ria. Waktu itu, suasana di lapangan basket penuh sesak dengan para siswa yang hampir setengahnya cewek. Itu semua jelas karena selain diadakan setelah jam pulang sekolah, juga karena Rifqi diturunkan di pertandingan tersebut.

“Pemain bernomor punggung sebelas itu siapa, Ren?”

“Oh, itu si Rifqi. Kenapa?”

“Permainannya itu lho keren banget.”

“Ehem, permainannya apa orangnya?”

“Irene, ngomong apa sih?”

“Kalau lo suka sama dia wajar kok. Tapi, kalau mau ngomongin Rifqi jangan di sini soalnya banyak yang suka. Kita ke kantin aja yuk, pasti sepi.” Kataku setengah berbisik sambil melirik kakak-kakak kelas di sekitarku.

“Ah, lo pasti cuma mau berteduh sambil duduk di kantin, iya kan?”

“Mmm.. begini, Mi..” belum sempat aku menyanggah, tiba-tiba…

PRRRIIIIIIITTTT…

Wasit meniup peluitnya. Seorang pemain ambruk ke lantai. Sayang aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, tapi dalam sekejap hampir seluruh penonton berteriak histeris.

“RIIIFFQQIIII… RRIIIFFQQIIII…”

Tak dapat kusangka Rifqi ambruk ke lantai, padahal ia selalu menjadi andalan tim basket sekolahku.  Berulang kali ia mencoba berdiri tapi tak kunjung berhasil.  Para pemain lainnya menghentikan permainan dan ikut membantunya berdiri. Beberapa siswa ada yang berteriak, “PMR… PMR…”

Tapi, tepat ketika beberapa petugas PMR tiba di lapangan, ternyata Rifqi sudah dipapah oleh salah seorang pemain dan… Ya Tuhan, Mia!

*bersambung*

[pernah dimuat dalam Majalah kaWanku edisi 16-22 Januari 2006]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s