Pengendalian Mikroba: Zat Antibakteri

Pengendalian mikroba merupakan upaya pemanfaatan mikroba dalam mengoptimalkan keuntungan peran mikroba dan memperkecil kerugiannya. Mikroba selain memberikan keuntungan juga dapat member kerugian pada manusia berupa penyakit atau racun. Pengendalian mikroba bertujuan mencegah penyebaran penyakit dan infeksi, membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi dan mencegah pengrusakan serta pembusukan bahan oleh mikroba. Cara pengendalian mikroba dapat dilakukan secara aseptik, desinfeksi dan steril. Teknik aseptik merupakan langkah-langkah yang diambil untuk memperoleh hasil yang akurat dalam suatu percobaan yaitu dengan menghindarkan percobaan dari mikroorganisme yang dapat mengontaminasi produk menjadi produk yang tidak diinginkan. Teknik aseptik dapat dilakukan dengan menyemprot alkohol pada tangan dan mengelap meja percobaan sebelum memulai kegiatan mikrobiologi (Hadioetomo 1993). Desinfektan merupakan bahan yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme, sedangkan steril merupakan kondisi mutlak akibat penghancuran dan penghilangan mikroorganisme hidup (Dwidjoyoseputro 1989).

Aktivitas antibakteri dalam pengendalian mikroba dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu aktivitas bakteriostatik (menghambat pertumbuhan tetapi tidak membunuh mikroba) dan aktivitas bakterisidal (dapat membunuh mikroba dalam jumlah banyak). Sifat aktivitas antibakteri suatu zat ditentukan berdasarkan jumlah konsentrasinya dan mekanisme kerja antibakteri. Beberapa zat yang dapat memberi efek bakteriostatik ialah sulfonamide, trimetoprim dan sulfon, sedangkan zat bakterisidal diantaranya penisilin, sefalosporin dan vankomisin (Supriadi 2006).

Contoh zat antibakteri yang dapat dimanfaatkan sebagai pengendali mikroba ialah klorin dan khitosan. Klorin atau Sodium Hipoklorit (NaOCl) memiliki bentuk cair, sedangkan klorin dalam bentuk padat ialah Kalsium Hipoklorit (CaOCl2)atau disebut juga kaporit. Menurut Sinuhaji (2009), klorin dimanfaatkan sebagai pemutih, penghilang noda maupun desinfektan.

Bahan lain yang dapat digunakan sebagai antibakteri ialah khitosan. Bahan khitosan merupakan biopolimer turunan kitin, yaitu senyawa yang banyak ditemukan pada eksoskeleton krustasea laut seperti udang, kepiting dan lobster. Khitosan dapat digolongkan sebagai bakterisidal karena kemampuan mengubah permeabilitas dinding sel atau transport aktif dinding sel bakteri hingga mengalami lisis (Herliana 2010).

Beberapa bahan alami mengandung senyawa-senyawa yang dapat berperan sebagai zat antibakteri, misalnya kunyit, bawang putih, belimbing wuluh, dan garam. Senyawa fenolik curcumin yang berasal dari kunyit (Curcuma longa) bersifat antifarmasi dan antioksidan (Rustam et al. 2007). Bawang putih memiliki senyawa alisin yang mampu menghambat pertumbuhan Salmonella typhimurium dan hampir sama efektif dengan penisilin (Saleh et al. 2006). Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn) mengandung saponin pada batang, flavonoid pada buah dan tannin pada daun. Ketiga senyawa tersebut berperan aktif dalam menghambat bakteri (Sari 2011). Garam cenderung menghambat aktivitas proteolitik dan berfungsi menurunkan ketersediaan air bebas sehingga keseimbangan osmotik sel bakteri terganggu (Heruwati 2002).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s