Bagan Tancap

Bagan tancap merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan oleh nelayan di Indonesia. Meskipun pengoperasian alat tangkap ini dianggap mengganggu jalur pelayaran, namun jumlahnya terus bertambah. Beberapa alasan yang dapat menjelaskan tingginya tingkat pertumbuhan unit penangkapan bagan adalah tingkat efisiensi dan efetivitas unit penangkapan bagan lebih tinggi dibandingkan alat tangkap lainnya. Tingginya efisiensi unit penangkapan bagan disebabkan karena bagan tidak memerlukan bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah besar sehingga mendorong peningkatan pertumbuhan alat tangkap bagan. Metode pengoperasian unit penangkapan bagan tidak rumit dan mudah diterima nelayan. Pengoperasian bagan tancap banyak dilakukan di beberapa daerah seperti Teluk Jakarta, perairan Jepara dan perairan Serang. Jumlah unit penangkapan bagan pada tahun 2006 di Serang mencapai 8,96% dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 17,73% yang dianggap cukup tinggi dibanding alat tangkap lainnya. Jumlah bagan tancap di Teluk Jakarta meningkat 39,89% pada tahun 2006 (Lee 2010).

Unit Sumberdaya

Ikan yang menjadi target penangkapan bagan adalah jenis ikan pelagis kecil yang memiliki sifat fototaksis positif atau jenis-jenis ikan yang tertarik terhadap cahaya. Kecenderungan ini disebabkan daya tembus cahaya yang pada saat pengoperasian hanya berada di permukaan. Namun, pada kenyataannya jenis-jenis ikan lain seperti ikan predator dan demersal non-fototaksis positif ikut tertangkap oleh bagan. Beberapa ikan predator yang tertangkap oleh bagan antara lain, layur, tenggiri, alu-alu hingga ikan besar seperti albakor dan cakalang juga tidak jarang ikut tertangkap. Tertangkapnya ikan predator oleh bagan disebabkan jenis ikan tersebut menemukan gerombolan ikan-ikan kecil di sekitar bagan sebagai makanan ikan tersebut. Ikan akan mendekati cahaya karena cahaya merupakan indikasi keberadaan makanan bagi predator (Lee 2010).

Takril (2005) menyebutkan hasil tangkapan bagan selama kurun waktu 1984 hingga 2003 menunjukan bahwa ikan hasil bagan terdiri dari empat kelompok besar yaitu pelagis kecil, pelagis besar, demersal dan total spesies yang tertangkap selama kurun waktu tersebut berjumlah 39 jenis. Beberapa spesies dominan yang tertangkap oleh bagan diantaranya teri (Stolephorus spp), tembang (Sardinella fimbriata), kembung (Rastrelliger spp), selar (Selaroides sp), layang (Decapterus spp), pepetek (Leiognathus sp), layur (Trichiurus savala) dan cumi-cumi (Loligo sp). Ikan pelagis umumnya filter feeder yaitu pemakan plankton dengan cara menyaring plankton lalu memilih jenis plankton yang disukainya ditandai dengan adanya tapis insang yang banyak dan halus. Lain halnya dengan ikan selar yang merupakan ikan buas pemangsa ikan-ikan kecil dan krustasea. Ikan pelagis kecil membentuk gerombolan padat di siang hari, sedangkan pada malam hari naik ke permukaan membentuk gerombolan menyebar.

Unit Penangkapan Ikan

Alat tangkap bagan termasuk dalam golongan jaring angkat. Bagan pertama kali diperkenalkan tahun 1950-an oleh orang-orang Makassar dan Bugis di daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara. Kemudian dalam tempo relatif singkat alat tangkap ini sudah dikenal di seluruh Indonesia. Salah satu variasi alat tangkap bagan yaitu bagan tancap (stationary lift net). Bagan tancap dikelompokan sebagai jaring angkat (lift net). Komponen operasi bagan tancap terdiri dari alat tangkap, nelayan sebagai pelaku operasi dan bangunan bagan sebagai pengganti kapal pengoperasian alat tangkap. Pengoperasiannya dilakukan dengan menurunkan dan mengangkat jaring secara vertikal. Waktu pengoperasiannya hanya pada malam hari (light fishing) terutama pada hari gelap bulan dengan menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan (Subani & Barus 1989).

Alat ini terdiri atas bangunan bagan dan jaring bagan. Bangunan bagan merupakan rangkaian atau susunan bambu berbentuk persegi empat yang ditancapkan sehingga berdiri kokoh di atas perairan. Alat tangkap ini bersifat immobile (tetap). Bangunan bagan umumnya berukuran 9×9 m, sedangkan untuk ukuran jaring satu meter lebih kecil dari ukuran bangunan tersebut. Bangunan bagan ditancapkan ke dasar perairan selama proses penangkapan sehingga tempat beroperasinya alat ini menjadi sangat terbatas, yaitu pada perairan dangkal. Adapun ketinggian alat tangkap ini dari dasar perairan rata-rata 12 m. Kedalaman perairan untuk tempat pemasangan alat tangkap ini rata-rata adalah 8 m. Pada daerah tertentu ada yang memasang pada kedalaman 15 m. Jaring yang biasa digunakan pada alat tangkap ini terbuat dari waring dengan mesh size 0,5 cm. Posisi jaring pada bagan terletak di bagian bawah bangunan bagan. Jaring diikatkan pada bingkai bambu yang berbentuk segi empat. Bingkai bambu tersebut dihubungkan dengan tali pada ke empat sisinya yang berfungsi untuk menaik-turunkan jaring. Adapun alat bantu yang biasa digunakan untuk menaikan atau menurunkan jaring adalah roller. Pada keempat sisi jaring diberi pemberat agar posisi jaring tetap stabil selama dilakukan perendaman (Nurdiana 2005). Gambar bangunan dan jaring bagan tancap dapat dilihat pada Gambar berikut.


Ciri khas penangkapan dengan bagan ialah menggunakan alat bantu penerangan (light fishing).  Perkembangan teknologi penangkapan ikan dari waktu ke waktu menghasilkan teknologi yang efektif dan efisien. Penggunaan teknologi penangkapan ikan dengan alat bantu lampu sebagai sumber cahaya untuk mengumpulkan ikan sudah lama dikenal nelayan. Perkembangan yang berarti terjadi sejak tahun 1950-an. Pada mulanya sumber cahaya yang digunakan adalah obor, lalu seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mulailah digunakan lampu minyak, gas karbit, lampu gas dan lampu listrik (Subani & Barus 1989).

Alat tangkap bagan tancap modern menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan. Keberhasilan penangkapan ikan sangat dipengaruhi kekuatan cahaya lampu yang digunakan. Lampu yang ditempatkan di atas permukaan air maka arah perambatan cahaya pada medium udara adalah lurus. Adanya gelombang justru akan merubah sinar-sinar yang semula lurus menjadi bengkok, sinar yang terang menjadi redup dan akhirnya menimbulkan sinar yang menakutkan ikan (flickering light). Makin besar gelombang maka makin besar pula flickering light-nya sehingga makin besar hilangnya efisiensi sebagai daya penarik perhatian ikan-ikan yang menjadi target penangkapan. Untuk mengatasi hal ini diperlukan penggunaan lampu yang konstruksinya disempurnakan sedemikian rupa, misalnya dengan memberi reflektor dan kap (tudung) yang baik (Nurdiana 2005).

Ketertarikan ikan pada cahaya sering disebut karena terjadinya peristiwa fototaksis. Cahaya merangsang ikan dan menarik (attract) ikan untuk berkumpul pada sumber cahaya. Peristiwa berkumpulnya ikan di bawah cahaya dapat dibedakan secara langsung dan tidak langsung. Peristiwa langsung terjadi ketika ikan-ikan tertarik oleh cahaya lalu berkumpul, sedangkan peristiwa tak langsung yaitu ketika cahaya menyebabkan plankton, ikan-ikan kecil dan sebagainya berkumpul lalu ikan yang lebih besar datang dengan tujuan mencari makanan (Lee 2010).

Metode Operasi Penangkapan Ikan

Pengoperasian bagan tancap umumnya dimulai pada saat matahari mulai tenggelam. Penangkapan diawali dengan penurunan jaring sampai kedalaman yang diinginkan. Selanjutnya lampu mulai dinyalakan untuk menarik perhatian ikan agar berkumpul di bawah sinar lampu atau di sekitar bagan. Pengangkatan jaring dilakukan apabila ikan yang terkumpul sudah cukup banyak dan keadaan ikan-ikan tersebut cukup tenang. Jaring diangkat sampai berada di atas permukaan air dan hasil tangkapan diambil dengan menggunakan serok. Pengoperasian tersebut menggunakan atraktor cahaya sehingga alat ini tidaklah efisien apabila digunakan pada saat bulan purnama. Adapun tahapan-tahapan metode pengoperasian bagan tancap adalah sebagai berikut : persiapan, setting, hauling dan brailing. Persiapan sangat diperlukan sebelum pengoperasian alat tangkap karena hal ini dapat menentukan keberhasilan dalam penangkapan ikan. Hal yang biasa dilakukan adalah pengecekan jaring bagan, pengecekan roller untuk menurunkan dan menarik jaring bagan, dan segala yang dibutuhkan pada saat pengoperasian (Subani & Barus 1989).

Awal penggunaan alat tangkap yakni penurunan jaring pada bangunan bagan. Tahap ini merupakan tahap setting dimana jaring biasanya diturunkan secara perlahan-lahan dengan memutar roller. Penurunan jaring beserta tali penggantung dilakukan hingga jaring mencapai kedalaman yang diinginkan. Proses setting tidak membutuhkan waktu begitu lama (Takril 2005). Proses selanjutnya ialah proses perendaman jaring. Selama jaring berada dalam air, nelayan melakukan pengamatan terhadap keberadaan ikan di sekitar bangunan untuk memperkirakan jaring akan diangkat. Proses pengamatan dilanjutkan dengan pengumpulan ikan yakni dengan menyalakan lampu di atas permukaan air, yaitu jarak 0,5 m dari permukaan laut bila laut tenang dan 1-1,5 m dari permukaan laut bila laut bergelombang. Lampu tersebut dibiarkan menyala hingga ikan tampak berkumpul di lokasi bagan (Subani & Barus 1989).

Pengangkatan jaring (hauling) dilakukan setelah kawanan ikan terlihat berkumpul di lokasi penangkapan. Kegiatan ini diawali dengan pemadaman lampu secara bertahap, hal ini dimaksudkan agar ikan tersebut tidak terkejut dan tetap terkonsentrasi pada bagian bagan di sekitar lampu yang masih menyala. Ketika ikan sudah terkumpul di tengah-tengah jaring, jaring tersebut mulai ditarik ke permukaan. Hingga akhirnya ikan tersebut akan tertangkap oleh jaring. Setelah pengangkatan jaring, hasil tangkapan diambil menggunakan serok dan dipindahkan ke dalam basket untuk diangkut ke darat. Proses pemindahan hasil tangkapan dari jaring menggunakan serok merupakan proses brailing (Takril 2005).

Sumber: Kompas (2009)

Pengoperasian alat tangkap bagan tancap di beberapa tempat cenderung merugikan jalur pelayaran sehingga standar lokasi pengoperasian alat tangkap ini perlu ditinjau ulang. Lokasi yang tepat sangat diperlukan untuk kenyamanan nelayan maupun masyarakat sekitar lokasi pengoperasian. Selain itu, sumberdaya ikan pelagis dapat mengalami penurunan jika penangkapan berlebih sehingga modifikasi alat tangkap bagan tancap yang dapat membantu pelestarian ikan pelagis sangat diperlukan.

 

Daftar Pustaka

Kompas. 2009. Bagan tancap. http://citizenimages.kompas.com (23 Desember 2011)

Lee JW. 2010. Pengaruh periode hari bulan terhadap hasil tangkapan dan tingkat pendapatan nelayan bagan tancap di Kabupaten Serang. [tesis]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

Nurdiana. 2005. Iluminasi cahaya lampu pijar 25 watt pada medium udara dan aplikasinya pada perikanan bagan tancap. [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

Subani W, Barus H. 1989. Alat penangkapan ikan dan udang laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut Edisi Khusus

Takril. 2005. Hasil tangkapan sasaran utama dan sampingan bagan perahu di Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

Wagiyo K, Hartati ST, Priyatna A. 2006. Sebaran, intensitas, produktifitas, komposisi dan kondisi biologi ikan hasil tangkapan alat tangkap pasif menetap di Teluk Jakarta. Prosiding Seminar Nasional Ikan IV di Jatiluhur, 29-30 Agustus

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s